Goncangan dan Pengaduan
Sang bapak meninggalkan putranya dalam keadaan
goncang dan beranjak ke kamar tidur dimana sang ibu sedang menanti dalam
keadaan risau ihwal hasil pertemuan tersebut. Ia bertanya kepada
istrinya dengan senyum tersimpul di wajahnya. Nampaknya kau telah
mendengarkan pembicaraan kami, iyakan? Si ibu menjawab: “Iya, namun
dapatkah ia menghandel kegoncangan ini?” “Aku pikir demikian,” jawabnya,
“sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh saudaranya sebelumnya,” ia
melanjutkan. Si ibu mendesah sembari berdoa: “Tuhanku, bimbinglah,
tuntunlah ia untuk mentaatiMu dan jadikan ia berkhidmat kepadaMu.” Lalu
ia berkata kepada suaminya, “Aku ingat saudaranya ketika ia mencapai
usia baligh. Aku sangat risau hari itu ketika engkau berkata bahwa
engkau sedang bermain api yang boleh jadi berujung pada tersesatnya
anakmu. Namun engkau memberikan jaminan kepadaku dan menjelaskan
keharusan proses tersebut. Dan kini kita dapat melihat output dan
hasilnya. Ia adalah salah seorang figur terkemuka di Eropa yang mengajak
dan membimbing manusia kepada Tuhan. Kejahilan tidak pernah mendekati
atau menodai putra kita dan tidak dapat menyesatkannya dari jalan yang
benar. Si bapak tercenung sejenak dan kemudian berkata: Jika kita
tinggalkan ia dengan gaya tradisional beribadah, salat yang tak
berkualitas dan ideologi warisan dari rumah dan komunitas, ia boleh jadi
tersesat ketika menghadapi beragam ideologi, trend sosial atau tradisi
ketika ia tinggal jauh dari kita. “Anakku sayang! Bagaimana engkau akan
melalui malammu?” keluh sang ibu dan melirik ke arah kamar putranya. Si
bapak memandang penuh arti dan berkata, “Bagaimana Ibrahim melalui
malamnya tatkala ia dengan penuh pemikiran mendongak ke atas langit dan
menatap ke bumi hingga ia beriman. Hal ini hanyalah ketetapan hati
ketika ia mengalihkan pandangannya kepada Pencipta tujuh petala langit
dan bumi sebagai seoarang Muslim dan muwahhid (insan yang bertauhid).
Setelah sang bapak menutup pintu kamar putranya, sang belia berdiri
tegap dalam keadaan goncang, dan tiba-tiba ia merasa pusing lalu
melemparkan dirinya ke atas pembaringan. Kondisi kalut dan pikiran
terbentur, secara dawam terlintas dalam benaknya, namun ia tidak dapat
mengerti apa yang sedang terjadi dan bagaimana menghadapinya. Ia merasa
seakan-akan kepalanya ingin meledak, namun ia ingat apa yang senantiasa
ibunya lakukan tatkala kesusahan; sang ibu duduk di atas sajadah
menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya dan berbisik lirih,
“Tuhanku, Aku tidak memiliki siapa pun selainMu tempat mengadu dan
meminta pertolongan dan tuntunan, tempatkanlah aku pada jalan yang
benar. Terburu-buru, ia berdiri dan pergi ke sink untuk mengambil wudhu
dan bersiap-siap untuk mendirikan salat. Dalam kondisi pikiran kalut,
takut dan risau, ia berdoa sembari mengingat ucapan bapaknya: “Apa yang
engkau pelajari tentang agama sebelum masa pubertasmu adalah keliru.” Ia
berpikir dalam salatnya dan hampir saja menyelesaikan salatnya, namun
ia tetap melanjutkan usahanya fokus pada apa yang telah dikatakan
bapaknya kepadanya. Bapaknya mengajarkan kepadanya untuk berkonsentrasi
dalam salatnya dan menaruh perhatian pada makna dari ayat-ayat yang
dilantunkan. Ucapan bapaknya memotong pikirannya:“Siapa Tuhan itu?” Ia
goncang, namun mencoba untuk mengendalikan dirinya hingga ia sampai pada
qunut. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan menyampaikan
kata-kata berikut ini dengan kuat dan penuh makna: “ “Tuhan..pemimpin
orang yang kebingunan, penuntun yang tersesat, Mahakasih,Engkau lebih
dekat kepadaku daripada urat nadiku sendiri; selamatkanlah aku dari
kebingungan dan tuntunlah aku ke jalan yang benar.” Sejenak ia berhenti.
Pikirannya beradu dan hatinya berdegup kencang. Setelah beberapa saat,
ia merasa lebih baik ketika mengingat ayat yang senantiasa ia baca di
masjid dan tiba-tiba merasa konfiden:Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah),
bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka
selalu berada dalam kebenaran.”
(Qs. al-Baqarah [2]:186)
http://alhassanain.org
