Dengan Nama Allah Yang Mahakasih dan Mahasayang
Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka
yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang
pada keduanya, kalian tak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya
tidak akan terpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar, di Hari Kiamat
kelak”.
(H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahmad, jilid 3, hal 14, 17, 26 danjilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189.
Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533, juga di dalam
kitab-kitab induk hadis yang lain)
Majid Fakhri
Kewajiban...Keraguan...Siapa Tuhan itu?
Si
anak sedang menyaksikan televisi tatkala bapaknya datang. Ia tahu bahwa
ada sesuatu yang penting yang ingin bapak katakan kepadanya. Keluarga
itu baru saja selesai menyantap makan malam mereka bersama dan sang
bapak meminta si anak untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdekat
untuk membicarakan apa yang diinginkan oleh sang bapak. Si Anak sangat
penasaran gerangan apa yang ingin dibincangkan oleh bapak. (insial D=Dad
panggilan akrab si bapak dan S=Son adalah ungkapan yang terkadang
digunakan si bapak ketika memanggil putranya).
D Apakah engkau tahu mengapa aku ingin menjumpaimu malam ini, anakku?
S Tidak Dad. Tapi saya kira ada sesuatu yang penting.
D Aku telah lama memikirkan dan merencanakan pertemuan ini.
S Sejak kapan, Dad?
B Semenjak engkau menginjak usia baligh, kurang lebih setahun yang lalu. Aku telah mempersiapkan sebuah program khusus untukmu.
S Program apakah itu? Dan apa hubungannya dengan masa balighku?
D Usia baligh atau pubertas merupakan masa transisi
antara masa belia dan masa dewasa, canda dan keseriusan, kebebasan yang
tak terbatas dan tanggung jawab, sebagaimana engkau tahu sendiri. Dalam
program ini, aku akan menggelar serangkaian diskusi denganmu tentang
agama, keyakinan, iman, manusia, masyarakat, semesta dan banyak hal yang
harus engkau ketahui makna yang sebenarnya dari masalah tersebut dan
membangun sebuah opini, gagasan dan sikap yang sesuai dengan kondisi
kedewasaan dan maturitasmu.
S Trims Dad, karena telah menaruh kepercayaan kepadaku.
D Anakku, yang pertama-tama menaruh kepercayaan ini
adalah Tuhan. Dan bila engkau tidak memiliki kapasitas dan kemampuan,
Dia tidak akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan membebankan tugas dan
kewajiban. Merupakan sebuah kehormatan bahwa manusia sendiri, dari
seluruh makhluk di bumi persada ini, dipercayakan dengan berbagai tugas
dan kewajiban.
S Benar Dad, apa yang Daddy katakan membuatku
merasa bangga, dan bertambah cintaku kepada Tuhan lantaran Dia
menugasiku dengan tanggung jawab. Saya berharap dapat menjadi seorang
hamba Tuhan, mencintai dan patuh kepada-Nya.
D Baguslah. Seorang hamba yang benar mencintai
Tuhan dan tunduk patuh kepada-Nya. Cinta dan ketundukan merupakan dua
hal yang tak terpisahkan. Seorang pujangga berkata, “Seorang pecinta
tunduk patuh kepada yang dicintai.”
S Menurut hematku, mereka yang membangkan titah
Tuhan melakukan hal ini lantaran mereka tidak memendam cinta kepada
Tuhan dalam hatinya.
D Tepat sekali, bahkan bagi mereka yang lemah
imanya tidak merasakan cinta kepada Tuhan sehingga ketika mereka
melakukan kewajiban dan tugas agama, mereka melakukan hal tersebut
dengan enggan, dan ketika mereka mengerjakan shalat, mereka
mengerjakannya dengan malas.
S Kemarin, aku membaca ayat in dalam al-Qur’an: “JIka engkau mencinta Allah, ikutilah aku; Allah akan mencintamu.”
D Apa yang engkau pahami dari ayat ini?
S Saya memahaminya bahwa terdapat sebuah cinta yang berbalas (mutual love) antara Tuhan dan Mukmin.
D Dan bahwa cinta bermakna ketaatan dan memikul beban derita semata-mata demi yang dicinta.
S Aku senang doa dan munajat yang dibacakan Ibu
kemarin, doa yang bersumber dari kitab as-Shahifah as-Sajjadiyah dan aku
sedang mencoba untuk menghapalnya.
D Munajat yang mana, son?
S Munajat yang berkata, “….Aku memohon cintamu dan
cinta orang yang mencintaiMu; cinta yang membuat seluruh bakti membawaku
dekat kepadaMu, lebih aku cintai melebihi yang lain, dan membuat
cintaku kepadaMu sebagai penuntun ke firdausMu, dan kegemaranku padaMu
sebagai penghalang untuk tidak melanggar titahMu.”
D Munajat ini juga menitikberartkan dan menyoroti pada hubungan cinta dan ketaatan.
S Tapi Dad, bagaimana kita menemukan cinta Tuhan dalam hati kita?
D Mudah saja: dengan mengenal-Nya. Jika engkau benar-benar mengenal-Nya, engkau akan menggapai cinta utama.
S Jadi, langkah pertama adalah mengenal Tuhan.
D "Yang pertama dalam beragama adalah makrifat
(pengenalan).” Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Nahjul Balagah.
Mengenal Tuhan merupakan perkara pertama dalam beragama, makrifat dan
pengenalan ini disyaratkan dengan cinta kepada-Nya. Hal ini adalah
persamaan Matematika, nak.
S Bagaimana?
D Dalam Matematika, ada sesuatu yang disebut sebagai substitusi ketika berurusan dengan persamaan.
S Iya, engkau mengingatkanku tentang hal itu.
Ketika kita terapkan, kita berkata, Pengetahuan = Agama. Agama = Cinta;
dan dengan substitusi kita menemukan bahwa agama adalah cinta, bukankah
demikian, Dad?
D Dan demikianlah apa yang disabdakan oleh Imam Shadiq As.
S Apa yang ia sabdakan?!
D Beliau bersabda, “Adakah agama itu selain cinta!” Nak, cinta merupakan sesuatu yang terindah di dunia ini.
S Allahu Akbar, Anda berbicara denganku dalam bahasa anak muda, bahasa……,
D Seorang remaja (ABG)?
S Baiklah, Dad, aku malu untuk berkata itu.
D Iya, Aku berbicara denganmu menggunakan bahasa
ABG, sebagaimana Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk berbicara
dengan manusia sesuai dengan cara berpikir mereka. Tuhan mengutus setiap
nabi untuk berbicara kepada manusia dengan bahasa mereka sendiri. Lalu
mengapa aku tidak berbicara denganmu sebagai seorang ABG?
S Tepat Dad, hanya dengan bahasanya seseorang akan
dapat mengerti. Kalau tidak, ia tidak ingin berurusan dengan sesuatu.
Salah seorang guru kami telah memberikan sebuah buku agama sebagai
hadiah. Aku berjuang keras ketika aku hendak membacanya, dan setelah
beberapa saat aku menyerah lantaran bahasanya terdengar seperti bahasa
moyang kita yang hidup berabad lampau; oleh karena itu, ia tidak ada
sangkut-pautnya dengan kehidupan kita hari ini.
D Hal ini merupakan alasan mengapa sebagian anak
muda lari dari agama karena mereka mendapatkan adanya representasi
bahasa agama yang mereka mengerti. Masa sekarang adalah masa computer
dan internet, dan tidak mungkin menyuguhkan Islam melalui kitab-kitab
klasik yang telah ditulis beberapa waktu yang lalu.
S Alangkah indahnya Anda berbicara, Pak! Aku rasa
aku mencintaimu lebih dari sebelumnya dan mencinta Tuhan dan bersyukur
kepada-Nya karena telah menganugerahkan kepadaku seorang ayah yang
luarbiasa.
D Dan aku kini lebih mencintai Tuhan karena telah menganugerahkan putra sepertimu.
S Alhamduillah!
D Puji Tuhan!
S Kita telah keluar dari tema utama kita, Dad.
D Sebaliknya, kita telah sampai kepada inti
permasalahan… Cintaku kepadamu dan cintaku kepada Tuhan menuntunku untuk
berbicara kepada ihwal agama, kehidupan, Tuhan, umat manusia, dunia dan
hari kiamat….Aku ingin engkau mempunyai pandangan komprehensif dari
seluruh pemikiran yang berkenaan dengan agama setelah engkau mencapai
usia baligh.
S Tapi Dad, Anda telah berdiskusi denganku hampir
seluruh isu-isu agama kita, telah menjelaskan pelbagai problem
ideologis, telah menerangkan prinsip-prinsip dan komponen agama dan
telah menunjukkan kepada kami jalan petunjuk. Apakah Anda melihat ada
kekurangan dalam imanku, atau cela dalam perilakuku?
D Hal ini tidak ada hubunganya dengan kekurangan
dalam iman atau cela, nak. Hal ini merupakan sesuatu yang lain, sangat
berbeda dan amat berbahaya. Oleh karena itu, aku ingin engkau
bersiap-siap dan mengetahui beberapa isu tanpa harus terkejut.
S OK, Pak! Apakah hal penting dan berbahaya sehingga harus kuketahui setelah mencapai usia baligh?
D Aku ingin katakan kepadamu bahwa apa yang engkau telah pelajari dari belajar ihwal agama adalah keliru.
S I Beg Your Pardon?! Dad! Apa yang Anda katakan?!
D Sebagaimana yang telah aku katakan, seluruh yang engkau dengar dariku ihwal agama adalah salah (sama sekali).
S Dad! Apa yang Anda katakan?! Apa yang Anda
maksudkan? Aspek agama yang mana yang salah? Aspek ideologi? Akhlak?
Tolong Dad, katakanlah yang benar kepadaku.
D Aku maksud dasar-dasar agama, ideologi: iman
kepada Tuhan, ma’ad (hari kiamat), Nabi dan para rasul dan apa yang
telah engkau pelajari adalah salah dan keliru.
S Astaga. Dad, ada apa denganmu? Maaf Dad karena
agak lancang. Bagaimana iman kepada Tuhan, hari kiamat dan para nabi
adalah sesuatu yang salah? Aku tidak dapat mempercayai dari apa yang aku
dengar.
D Aku akan menjawab pertanyaan ini besok.
S Dad! Tolong berterus teranglah dengan apa yang
Anda inginkan, karena Anda telah membuatku was-was. Bagaimana Anda dapat
meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini? Lalu bagaimana aku
menunaikan salat, sementara aku dalam keadaan was-was dan ragu-ragu.
D Siapa yang menyuruhmu salat?
S Bukankah Anda yang menyuruhku untuk salat dan mengerjakannya dengan sabar?
D Kalau begitu salatmu tidak diterima sama sekali.
S Tidak diterima? Apa maksudnya? Kalau begitu, haruskah aku meninggalkan salat?
D It is up to you, apakah engkau ingin mengerjakan salat atau tidak.
S Aneh. Aku bisa jadi gila. Bagaimana bapakku
menyuruhku untuk meninggalkan salat? Bagaimana? Bapakku yang
mengajarkanku salat, kini menyuruhku untuk meninggalkannya!
D Aku tidak memintamu utuk meninggalkan salat. Aku
berkata bahwa engkau bisa meninggalkannya atau melanjutkannya,
sebagaimana yang engkau sukai.
S Ajib. Tidakkah Anda berkata bahwa salat merupakan
tiang agama dan hal pertama yang akan ditanyakan kepadaku kelak di hari
kiamat? Dan Allah berfirman: “Dirikanlah salat secara tetap untuk
bersyukur kepadaku.”
D Aku berkata bahwa apa yang telah engkau dengar dariku selama ini sebelum usia balighmu adalah salah.
S Dad, haram hukumnya berkata demikian!
D Apa artinya haram itu??
S Haram artinya bahwa Tuhan tidak mengizinkan hal tersebut.
D Tuhan? Siapa Tuhan itu?
S Ya Allah..ini kegilaan!
D Jangan lekas marah. Aku bertanya kepadamu sebuah pertanyaan; berikan jawaban atau katakan “Aku tidak tahu.”
S Tapi Anda bertanya “Siapa Tuhan itu?”
D Ada yang salah dengan pertanyaan itu?
S Dad, please! What is going on? Apakah engkau
benar-benar dirimu, bapakku, apakah Anda tahu apa yang Anda katakan?
Saya tidak dapat mempercayai hal ini.
D Iya, Aku bapakmu yang mengatakan hal ini. Jika aku tidak melakukan hal ini, maka aku bukan bapakmu.
S Oh..My God! Apa yang telah terjadi?
D Kita akan lanjutkan diskusi ini besok. Sekarang pergilah tidur. Selamat malam! Next>>>
http://alhassanain.org